Kutemukan Mangrove di Bantul
Hobi browsing ternyata dapat memberikan info-info yang menarik, salah satunya adalah informasi tentang keberadaan area mangrove di daerah Bantul, sekitar 17 km ke selatan dari kota Jogja. Letaknya di desa Tirtohargo, tepatnya di hilir sungai opak, pesisir selatan Bantul, antara pantai Depok dan Samas.
Laman yang kubaca yaitu tentang penanaman massal 1000 bibit Mangrove yang dilakukan PMI bantul bekerjasama dengan PMI Jerman. Berita itu mematahkan perkiraanku kalau pesisir selatan Yogyakarta tidak bisa di tanami mangrove.
Pada saat bersamaan aku juga dapat informasi tentang program Kapal Pemuda Nusantara. Progam itu bertujuan untuk mengenalkan dan merangsang kecintaan terhadap kebahariaan Indonesia. Nah, salah satu syaratnya adalah membuat proposal tentang potensi kelautan di daerah masing-masing. Tanpa perlu berpikir banyak, aku mengangkat tema tentang mangrove Tirtohargo itu. Bersama Ires aku survei ke daerah sana, untungnya aku g salah bawa orang, nyasar beberapa kali dan harus berjalan kaki si Ires tetep ketawa-ketawa g ngeluh
Untungnya lagi Ires punya kamera bagus.
Setelah nyasar beberapa kali, akhirnya ketemulah daerah mangrove itu berkat papan yang sudah rusak yang bertuliskan “Area Pembibitan Bakau”.
Untuk memasuki daerah itu kami harus melalui jalan kecil. “kui Mangrove e!” sahutku pertama kali liat pohon yang akarnya menjalar-jalar.

Setelah itu, kami bertemu dengan Pak Warsono. Ketika pertama liat wajahnya, kebayang laman web beberpa minggu yang lalu di Laman Jakarta pos. “Mangrove Man!”.. iya memang beliau orangnya. Setelah itu kami di pandu “Mangrove Man” ke tempat budidaya mangrove, dan dikenalkan beberapa jenisnya. Avicena dll (aku lupa yang lain). Beliau mengatakan bahwa sudah beberapa tahun ini beliau menjaga dan merawat serta melestarikan mangrove tanpa diberi imbalan oleh pemerintah. Mungkin imbalan secara tidak langsung adalah ternaknya pak Warsono bisa makan rerumputan secara bebas. Beliau juga bercerita tentang “musuh”nya yang selama ini mengancam keberadaan mangrove di daerah tersebut. “Musuh”nya pak Warsono adalah penambang pasir illegal. Beliau telah melaporkan ke pemerintah dan beberapa LSM tetapi belum ada tindak lanjutnya.
Setelah puas melihat-lihat kawasan konservasi mangrove, tibalah saatnya untuk pulang. Alhamdulillah dapat dua tanaman mangrove untuk dibawa pulang.
Semoga lahan konservasi mangrove di desa Tirtohargo dapat lestari dan pemerintah kabupaten dapat merespon fenomena ini dengan baik.





apik-apik
Juli 12, 2010 pukul 3:20 pm
pertamax!! ^^
wahh, ternata ini yang membawamu ke kapal nusantara itu.. mantap2!!! ak juga gatau kalo di jogja ada mangrove..
nice writing btw, keep blogging yakk!!
-tika-
Juli 12, 2010 pukul 3:31 pm
Salam kenal dari pecinta mangrove. Salam silaturahmi.
Juli 20, 2010 pukul 6:30 am
ehh ehh mau kenalan dong sm si ires itu!!
jyakakak
September 8, 2010 pukul 5:31 am
punya blog jg yaakk^^ nice..
pngalaman d kapal nusantara tulis jg dunn, keep writing^^
September 11, 2010 pukul 2:03 am
kerenn bgt tu mb”
kebtulan sya dn rekan” UKM jg br’grak di bdg mangrove…jdi trimakasih bnyak informsi ny..
Kelompok Mahasiswa Study Lingkungan- Mangrove Instiper Club (KMSL-MIC)
thnks and siiooee ^-^..
Januari 30, 2011 pukul 1:50 pm
owww.. ini to mangrovenya.. hehe,, kkn dsitu tambah manteb sett
Februari 7, 2012 pukul 8:45 am